468x60 Ads

This is default featured slide 1 title This is default featured slide 2 title This is default featured slide 3 title This is default featured slide 4 title This is default featured slide 5 title
Tampilkan postingan dengan label EDUKASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EDUKASI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Desember 2013

Pemerhati Pendidikan Khawatirkan Kurikulum 2013

Senin, 02 Desember 2013, 19:54 WIB 

Kurikulum 2013 (ilustrasi)
Kurikulum 2013 (ilustrasi)

BANDUNG -- Pemberlakuan kurikulum 2013, masih menyisakan berbagai pertanyaan. Yakni, kurikulum baru ini bisa memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia atau tidak.

Menurut Pemerhati Pendidikan dari UPI, Prof Suarma Al Muchtar, Ia khawatir kurikulum 2013, sama dengan kurikulum sebelumnya. Yakni, membuat kurikulum tanpa memperbaiki kualitas gurunya.

"Saya khawatir, kurikulum baru diberlakukan tapi tak memperhatikan guru. Padahal, pendidikan kuncinya ada di guru," ujar Suarma di Seminar Internasional Pendidikan Guru, Kerja Sama UPI dengan Monash University, Senin (2/12).

Menurut Suarma, sebenarnya yang penting bukan kurikulumnya, tapi gurunya. Kurikulum apa pun yang diberlakukan, kalau guru yang mengajar di kelas hanya menyampaikan materi untuk mencapai Ujian Nasional, maka Indonesia akan selalu dihadapkan dengan masalah moral.

"Dari 100 guru, saya survei semuanya sekarang hanya mengejar kognitif yakni mengejar nilai UN," katanya.

Suarma mengatakan, saat ini Ia melihat, praktik pendidikan di Indonesia,lost control dari falsafah. Padahal, pendidikan yang bagus itu berdasarkan keagamaan. Berdasarkan analisis sosial budaya, yang akan membentuk moral sebuah bangsa adalah agama.

Jadi, kata Suarma, sekolah guru harus bisa membangun spirit belajar agar lebih dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sebab, dengan iman dan taqwa maka siswa bisa memilih yang baik dan buruk. Karakter orang yang dekat dengan tuhan, akan selalu memilih yang baik.

"Pendidikan kita, lebih digeneral untuk kepentingan kognitif atau hapalan. Oleh karena itu, definisi teaching harus diubah. Yakni, bagaimana, mengubah calon pendidik agar dekat dengan tuhan," katanya.

Suarma mengaku, memang pikiran pragmatis tak akan sampai ke arah tersebut. Oleh sebab itu, Ia dan timnya sedang membuat konsep bagaimana merumuskan pola pengajaran di sekolah yang bisa mendekatkan ke karakter keimanan dan ketakwaan.

"Itu disebut ga di kurikulum 2013? pendidikan moral harus jadi utama. Korupsi yang terjadi karena tak ada kejujuran yang terbentuk kalau tak ada karakter, berbasis agama," katanya.


UII Ingin Kembalikan Cangkringan Sebagai Sentra Manggis

Selasa, 03 Desember 2013, 13:23 WIB 

UII

SLEMAN -- Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ingin mengembalikan Cangkringan menjadi sentra buah manggis dan durian.
Obsesi itu diwujudkan dengan pemberian bantuan 5.000 bibit manggis dan durian dari mahasiswa baru 2013/2014 kepada pemerintah Kecamatan Cangkringan.

Bantuan bibit buah-buahan secara simbolis diserahkan Rektor UII Yogyakarta, Edy Suandi Hamid kepada Camat Cangkringan, Bambang Nurwiyono di Kantor Camat Cangkringan, Selasa (3/12).
 

Selanjutnya, pohon buah-buahan itu ditanam di seluruh wilayah Cangkringan. Terutama di Dusun Bulaksalak dan Ngepringan, Desa Wukirsari yang rusak akibat awan panas.

Edy Suandi Hamid menjelaskan selain untuk mengembalikan sentra buah-buahan, penanaman pohon ini juga dimaksudkan menghutankan kembali lahan kritis.
 

Sebab kerusakan hutan di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Setelah reformasi kerusakan hutan di Indonesia menjadi tiga juta hektare per tahunnya.

"Kalau hanya menanam 5.000 pohon tentu masih belum bisa mengatasi kerusakan hutan. Karena itu UII mengharapkan perguruan tinggi lain juga menggerakan mahasiswanya untuk menanam pohon," kata Edy di Sleman, Selasa (3/12).

Saat ini, kata Edy, mahasiswa perguruan tinggi swasta (PTS) ada 2,8 juta. Sedangkan perguruan tinggi negeri (PTN) ada sekitar tiga juta mahasiswa. "Bila semua mahasiswa baru menanam pohon, tentu kerusakan hutan akan lebih cepat ditangani," ujarnya.

Camat Cangkringan, Bambang Nurwiyono mengatakan bantuan pohon buah-buahan dari UII ini bakal membantu masyarakat Cangkringan. Bahkan jika sudah berbuah, pohon buah-buahan ini akan memberikan penghasilan setiap tahunnya.

"Kalau kita menanam tanaman keras lima tahun baru memetik hasilnya. Jika buah-buahan setiap tahunnya berbuah dan memberi penghasilan tambahan bagi warga," kata Bambang.

Apalagi Cangkringan memiliki obyek wisata agro dan lava tour. Pohon buah manggis dan durian ini tentu akan mengembalikan Cangkringan sebagai sentra manggis dan durian.
 




Pola UN Diubah pada 2015

Rabu, 06 November 2013, 04:35 WIB

 Para siswa mengikuti pelaksanaan ujian nasional (UN) hari terakhir di ruang kelas SMUN 1 Jakarta, Kamis (18/4).   (Republika/Prayogi)
Para siswa mengikuti pelaksanaan ujian nasional (UN) hari terakhir di ruang kelas SMUN 1 Jakarta, Kamis (18/4). (Republika/Prayogi)

SURABAYA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan mengubah pola ujian nasional (UN) pada 2015. Karena, pada saat itu semua jenjang pendidikan sudah menerapkan Kurikulum 2013. “Pola UN tidak mungkin diubah sekarang karena siswa pelaksana Kurikulum 2013 masih belum menjadi peserta UN,” kata Staf Khusus Mendikbud Bidang Komunikasi Media Sukemi, Selasa (5/11).

Menurutnya, UN sebagai standar evaluasi akan tetap ada. Hal itu merujuk pada standar evaluasi yang selalu ada pada semua jenis kurikulum pendidikan. Selain itu, UN juga merupakan amanat UU Sisdiknas yang dapat menjadi ukuran untuk pembanding standar pendidikan dengan negara lain. “Tapi, pola UN bisa jadi akan disesuaikan dengan Kurikulum 2013 pada saat seluruh siswa sudah menerapkan Kurikulum 2013,” katanya.

Sedangkan, Kurikulum 2013 saat ini hanya diterapkan kepada siswa kelas I dan IV SD, kelas I (VII) SMP, dan kelas I (X) SMA. Ia mengaku belum bisa merinci bentuk perubahan pola UN itu. Yang jelas, UN saat ini dipakai pemerintah untuk empat fungsi, yaitu pemetaan, syarat kelulusan, syarat melanjutkan studi ke jenjang berikutnya, dan intervensi kebijakan. Pemetaan dan intervensi kebijakan itu bisa dilakukan kalau ada UN.

Misalnya, ada SMA di Jakarta dengan hanya lima siswa yang semuanya tidak lulus UN, lalu Kemendikbud melakukan intervensi dengan kebijakan merger. Atau, SMA di NTB yang jeblok pada mata pelajaran bahasa Inggris, ternyata sekolah itu tidak memiliki guru bahasa Inggris dan pengajar bahasa Inggris justru guru bidang studi lain, lalu pihaknya memberikan guru bahasa Inggris.


US dan UN

Selain itu, mantan kepala Puspendik Balitbang Kemendikbud Hari Setiadi menyatakan, Kemendikbud sejak tahun 2011 sebenarnya sudah menggabungkan nilai ujian sekolah (US) dengan UN. US berfungsi sebagai evaluasi internal dan UN sebagai evaluasi eksternal. “Peran dari nilai US mencapai 40 persen, sedangkan UN mencapai 60 persen sehingga kalau banyak siswa yang lulus UN karena ada faktor US itu. Ke depan, kami akan memberikan kisi-kisi US agar kualitas US semakin baik,” ujarnya.

Hari mengatakan, US sebagai evaluasi internal merupakan “pintu masuk” bagi penilaian sesuai Kurikulum 2013 yang mengevaluasi sikap/perilaku, keterampilan, dan pengetahuan. Jika UN sebagai evaluasi eksternal, akan bisa menjadi “pintu masuk” bagi syarat masuk perguruan tinggi. Namun, UN sekarang masih belum sepenuhnya bisa seperti itu. Karena selama nilai US dan UN ada disparitas, menunjukkan kualitas masih rendah.

Wakil Ketua Dewan Pendidikan Jatim Bagong Suyanto menilai bahwa UN saat ini masih mengalami sakralisasi. Sehingga, evaluasi pendidikan saat ini justru menimbulkan “ketakutan” sehingga sekolah mirip LBB (lembaga bimbingan belajar).

“Karena itu, perlu ada desakralisasi UN dengan memosisikan UN sebatas 20-25 persen, sedangkan US dengan porsi lebih besar, yakni 75-80 persen,” katanya. Menurutnya, hal itu penting karena proses pembelajaran selama tiga tahun itu dievaluasi melalui US. Jadi, US lebih penting dan sesuai dengan Kurikulum 2013.

Masalahnya, pemerintah masih belum sepenuhnya percaya dengan sekolah sehingga US pun tidak dipercaya. “Ke depan, seiring dengan proses penerapan Kurikulum 2013, pemerintah harus percaya kepada US. Kalau sekolah dan guru tidak dipercaya, ya ironis,” ujar Bagong. n antara ed: muhammad hafil





SD Tidak Ada UN Lagi Tahun Depan

Minggu, 01 Desember 2013, 21:17 WIB 

Sekolah Dasar

JAKARTA, -- Ujian Nasional untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) tahun 2014 akan dihapus. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menggunakan nama Ujian Sekolah/Madrasah (US/M) dalam menentukan kelulusan siswa SD.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendikbud, Ainun Na'im mengatakan dalam US/M pihak sekolah yang akan sepenuhnya menentukan kelulusan siswanya. Meski demikian, soal yang digunakan dalam US/M tidak 100 persen berasal dari sekolah.
"Yang buat soal 25 persen dari pusat dan 75 persen dari satuan pendidikan Provinsi dan Kabupaten," kata Ainun dalam keterangan resminya sebelum rapat koordinasi (Rakor) untuk persiapan implementasi kurikulum 2013 dan Ujian Nasional (UN) 2014 di Jakarta, Ahad (1/12).
US/M dilakukan serentak di seluruh SD dan MI yang ada di Indonesia. Untuk SD/MI (Madrasah Ibtidaiyah) ada sebanyak tiga mata pelajaran. Yakni Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Sedangkan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) sebanyak empat mata pelajaran yakni Bahasa Indonesia, Matematika, IPS dan PKn.
"Ujian Sekolah/Madrasah SD/SDLB/MI/Paket A/Ula pada 19-21 Mei," ujarnya.
Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Ramon Mahondas mengatakan penilaian di SD tidak dengan angka, tapi diberikan dengan narasi. "Sehingga mereka tidak tinggal kelas. Bagi yang belum memahami pelajaran, meskipun naik kelas akan diberikan remedial," katanya.

Ramon melanjutkan, saat ini telah dilakukan pelatihan untuk guru pendamping yang turun di lapangan. Para guru dijelaskan bentuk baku rapor dan cara menilai. "Pelatihan tahun depan mencakup 150 ribu sekolah, lebih besar dibandingkan tahun ini yang hanya enam ribu sekolah," ujarnya.


SDN Karangasem Perkenalkan Budaya Bali ke Jepang


TIGA siswa Sekolah Dasar (SD) di Karangasem, yakni dua orang dari SDN 1 Karangasem, satu orang dari SDN 4 Padangkerta, dan seorang guru dari SDN 5 Karangasem akan memperkenalkan budaya masyarakat Bali dalam festival budaya di Kanaya, Jepang.

Selama di Negeri Sakura, Ni Made Winia Praba Wati, Ni Komang Wiwin Sari Putri dan Ni Komang Rustika Ayu Kinanti akan didampingi seorang guru Ni Made Manik Wahyuni Antari Parta, yang juga telah lolos seleksi di tingkat provinsi. Mereka diterima Bupati Karangasem I Wayan Geredeg, S.H.,MAP, didampingi Kepala Bidang Pendidikan Dasar I Gusti Bagus Budi Adnyana, S.T., M.T., Senin (2/12) lalu di Amlapura.

''Kami sangat bangga ada tiga murid SD dan seorang guru di Karangasem mampu lolos bersama 27 murid di kabupaten lainnya, serta mendapat kepercayaan untuk memperkenalkan budaya Bali ke dunia internasional,'' kata Bupati Geredeg.

Kabid Dikdas seizin Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Drs. I Gede Ariyasa, M.Pd., menjelaskan, pertukaran budaya ini merupakan program Disdikpora Provinsi Bali. Dari lima siswa dan delapan guru yang dikirim ke provinsi, telah lolos tiga siswa serta seorang guru yang memiliki kemampuan akademis dan terampil menari.

Ditambahkan, ketiga murid tersebut juga sering mengikuti kegiatan PKB serta Porsenijar. Khusus untuk guru yang lolos seleksi, mereka sebelumnya telah mengumpulkan karya tulis mengenai kebudayaan Bali.
 

Mereka akan menunjukkan kepiawaiannya di Jepang selama sembilan hari dalam festival budaya ''Bali Kanaya Art Week''.(ad3)